Persalinan Patologi : Preeklamsi

Pagi #SobatBidanidn, seperti yang kita ketahui setiap ibu hamil memiliki resiko. Maka dari itu penting sekali untuk pemeriksaan berkala ke Bidan terdekat.

Kondisi Patologi yang banyak dijumpai ialah kasus preeklamsi. Preeklamsia adalah kondisi peningkatan tekanan darah disertai kandungan protein dalam urine. Kondisi ini biasanya terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu.

Preeklamsia harus diberikan penanganan untuk mencegah komplikasi dan berkembang menjadi eklamsi yang dapat mengancam nyawa ibu hamil dan janin. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia adalah ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun atau di bawah 20 tahun.

Preeclampsia - alodokter
Sumber instagram : Jennifer Bachdim

Gejala Kasus Preeklamsia

Preeklamsia umumnya berkembang secara bertahap. Tanda dan gejala yang akan muncul seiring dengan perkembangan preeklamsia diantaranya :

  • Tekanan darah tinggi
  • Proteinuria (ditemukannya protein di dalam urin)
  • Sakit kepala berat atau terus-menerus
  • Pandangan kabur atau sensitif terhadap cahaya
  • Nyeri di perut kanan atas
  • Sesak nafas
  • Pusing, lemas, dan tidak enak badan
  • Frekuensi buang air kecil dan volume urine menurun
  • Mual dan muntah
  • Bengkak pada tungkai, tangan, wajah, dan beberapa bagian tubuh lain
  • Berat badan naik secara tiba-tiba

Penyebab Kasus Preeklamsia

Penyebab preeklamsia masih belum diketahui secara pasti. Namun, ada dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh kelainan perkembangan dan fungsi plasenta, yaitu organ yang berfungsi menyalurkan darah dan nutrisi untuk janin.

Kelainan tersebut menyebabkan pembuluh darah menyempit dan timbulnya reaksi yang berbeda dari tubuh ibu hamil terhadap perubahan hormon. Akibatnya, timbul gangguan pada ibu hamil dan janin.

Meskipun penyebabnya belum diketahui, sejumlah faktor berikut ini dinilai dapat memicu gangguan pada plasenta:

  • Riwayat penyakit diabetes, hipertensi, penyakit ginjal, autoimun dll
  • Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
  • Baru pertama kali hamil
  • Hamil lagi setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya
  • Hamil di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun
  • Gemeli
  • Mengalami obesitas saat hamil, yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m2
  • Kehamilan yang sedang dijalani merupakan hasil program bayi tabung (in vitro fertilization)
  • Ada riwayat preeklamsia dalam keluarga

Diagnosis Kasus Preeklamsia

Saat Bunda memeriksakan kondisi kehamilan pada Bu Bidan, maka Bidan akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, pembengkakan pada tungkai, kaki, dan tangan, menghitung usia kehamilan serta taksiran persalinan dan kondisi kandungan. Dan seiring dilakukannya pemeriksaan, Bu Bidan akan mendeteksi sedini mungkin kondisi kehamilan Bunda. Sehingga jika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi Patologi / abnormal akan segera diketahui.

Jika tekanan darah ibu hamil lebih dari 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan dengan jeda waktu 4 jam, Bu Bidan akan melakukan pemeriksaan penunjang berikut untuk memastikan diagnosis preeklamsia:

  • Pemeriksaan urine, untuk mengetahui kadar protein dalam urine
  • Pengambilan sampel darah, untuk memeriksa fungsi hati, ginjal, dan jumlah trombosit darah

Klasifikasi Kasus Preeklamsi

  • Preeklamsia Ringan (PER)
  • Preeklampsia Berat (PEB)

Selanjutnya kasus bisa berlanjut lebih kompleks menjadi :

  • Eklamsi

Pengobatan Kasus Preeklamsia

Obat-obatan

Sambil tetap menerapkan pola hidup sehat, Bu Bidan akan memberikan obat-obatan berikut pada ibu hamil yang mengalami preeklamsia:

  • Obat antihipertensi
    Obat antihipertensi biasanya diberikan jika tekanan darah ibu hamil sangat tinggi. Umumnya jika tekanan darah ibu hamil masih berkisar pada 140/90 mmHg, tidak diperlukan pemberian obat antihipertensi.
  • Obat kortikosteroid
    Obat ini digunakan pada preeklamsia berat atau saat terjadi sindrom HELLP. Selain itu, obat ini dapat mempercepat pematangan paru-paru janin.
  • Obat MgSO4
    Pada preeklamsia berat, Bu Bidan akan memberikan suntikan MgSO4 untuk mencegah komplikasi, seperti kejang. Dan selanjutnya di rujuk ke Fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.

Perawatan di rumah sakit

Bila preeklamsia cukup berat atau semakin parah, ibu hamil akan dirawat agar kondisinya terpantau. Selama perawatan, dokter akan melakukan pemeriksaan darah, NST, dan USG secara rutin guna memantau kesehatan ibu hamil dan janin.

Perawatan setelah melahirkan

Setelah melahirkan, pemantauan tetap perlu dilakukan. Biasanya, pasien perlu menjalani rawat inap beberapa hari setelah melahirkan. Pasien juga tetap perlu mengonsumsi obat antihipertensi yang diresepkan oleh dokter dan melakukan kontrol rutin sampai sekitar 6 minggu setelah melahirkan.

Komplikasi Preeklamsia

Jika tidak ditangani, preeklamsia dapat menyebabkan komplikasi, seperti:

  • Eklamsia, yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kejang
  • Kerusakan organ, seperti edema paru, gagal ginjal, dan gagal hati
  • Penyakit jantung
  • Gangguan pembekuan darah
  • Solusio plasenta
  • Stroke hemoragik
  • Sindrom HELLP

Komplikasi juga bisa menyerang janin. Komplikasi pada janin meliputi:

  • Pertumbuhan janin terhambat
  • Lahir prematur
  • Lahir dengan berat badan rendah
  • Neonatal respiratory distress syndrome (NRDS)

Hal yang harus diperhatikan Bunda adalah :

  • Melakukan kontrol rutin selama kehamilan
  • Mengontrol tekanan darah dan gula darah jika memiliki kondisi hipertensi dan diabetes sebelum kehamilan
  • Menerapkan pola hidup sehat, antara lain dengan menjaga berat badan ideal, mencukupi kebutuhan nutrisi, tidak mengonsumsi makanan yang tinggi garam, rajin berolahraga, dan tidak merokok
  • Mengonsumsi suplemen vitamin atau mineral sesuai saran Bu Bidan

Penulis : Bidan Fenny Sugih Hastini, S.ST

Diterbitkan oleh bidanidn

Support bidan Indonesia

%d blogger menyukai ini: